Instrumen Investasi 2 - Saham
Saham dalam arti luas merupakan suatu bukti kepemilikan atas sesuatu. Disini akan dibahas mengenai saham dengan pengertian bukti kepemilikan atas perusahaan. Misalkan anda memiliki saham sebesar 15.000 lembar PT. Sukses Abadi, Tbk dengan total saham yang beredar 20.000 lembar. Berarti kepemilikan anda di PT. Sukses Abadi, Tbk adalah sebesar 75%. Saham adalah salah satu emiten yang terdapat pada "reksadana". Sebelum berinvestasi di saham, lebih disarankan berinvestasi di reksadana dan sambil mempelajari cara melakukan analisa fundamental suatu perusahaan. Mengapa harus demikian? Untuk seorang pemula, tentunya pengetahuan dan pengalaman dalam hal menganalisa perusahaan masih sangat minim. Hal ini dapat menyebabkan para pemula seperti membeli kucing dalam karung (membeli sesuatu yang tidak dipahami) dan tentunya lebih mengandalkan keberuntungan. Lalu, mengapa reksadana terlebih dahulu? Hmm, sebenarnya tidak harus dimulai dari reksadana. Penulis menyarankan reksadana karena menurut penulis untuk memahami analisa fundamental dibutuhkan waktu (cepat atau lama tergantung anda), daripada dana yang anda miliki menganggur, sebaiknya diinvestasikan ke reksadana karena reksadana merupakan suatu instrumen yang dikelola oleh orang-orang yang memang sudah ahli di bidangnya atau biasa disebut manager investasi.
NB : Bagi yang belum memahami reksadana dapat dibaca pada artikel sebelumnya melalui link "Reksadana".
Sekedar informasi, jika dibandingkan dengan reksadana, imbal hasil dan resiko dalam berinvestasi di saham tentunya lebih tinggi daripada reksadana. Penyebabnya adalah saham dapat dikelola sendiri (menyebabkan imbal hasil lebih tinggi karena tidak dikenakan biaya apapun selain fee jual dan beli) dan keakuratan data yang didapat tentunya tidak dapat mengimbangi para manager investasi sehingga sering kali terjadi keterlambatan dalam hal menyadari masalah yang terjadi pada suatu perusahaan dan sebagainya (ini yang menyebabkan tingginya resiko). Seiring berjalannya waktu, kemampuan analisa akan semakin baik dan mampu menghasilkan return yang lebih tinggi serta resiko yang lebih rendah jika dibandingkan dengan reksadana yang dikelola oleh manager investasi. Sedikit tips dari penulis, jika indin memulai investasi di saham, pilihlah saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan kapitalisasi yang besar sepertu Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Jasa Marga (JSMR), Adhi Karya (ADHI), dan lain sebagainya. Umumnya saham diatas memberikan imbal hasil yang tinggi dengan resiko yang rendah.

So sudah dapat diambil kesimpulan bahwa saham merupakan investasi yang cukup baik, lebih baik jika dibandingkan dengan instrumen yang lain (Menurut penulis) karena imbal hasil dan resiko yang akan diterima dapat di-manage sesuai dengan kebutuhan dan penghasilan dari saham dapat terus berjalan tanpa harus menjual investasi yang dimiliki melalui dividen atau yang biasa disebut dengan pembagian keuntungan.
Sekian dan semoga bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya..
NB : Bagi yang belum memahami reksadana dapat dibaca pada artikel sebelumnya melalui link "Reksadana".

So sudah dapat diambil kesimpulan bahwa saham merupakan investasi yang cukup baik, lebih baik jika dibandingkan dengan instrumen yang lain (Menurut penulis) karena imbal hasil dan resiko yang akan diterima dapat di-manage sesuai dengan kebutuhan dan penghasilan dari saham dapat terus berjalan tanpa harus menjual investasi yang dimiliki melalui dividen atau yang biasa disebut dengan pembagian keuntungan.
Sekian dan semoga bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya..

Comments
Post a Comment