Analisa Perusahaan
Dalam melakukan pemilihan perusahaan target investasi, ada beberapa cara analisa yang dapat digunakan seperti analisa teknikal dan analisa fundamental. Namun disini hanya akan dibahas mengenai satu cara (berhubung penulis hanya mengerti cara yang satu ini) analisa yaitu analisa fundamental. Nah, analisa fundamental itu merupakan metode analisa yang didasarkan pada fundamental ekonomi yang ada pada suatu perusahaan. Analisa ini dipengaruhi oleh rasio finansial dan kejadian baik yang mempengaruhi perusahaan secara langsung maupun tidak langsung. Analisa fundamental dipakai untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi di suatu perusahaan dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Teknik analisa fundamental biasanya mengandung banyak sekali data-data variabel yang harus dianalisis. Beberapa variabel yang cukup penting untuk diperhatikan dan dipelajari yaitu sebagai berikut :
1. Pertumbuhan Pendapatan (Revenue Growth)
2. Pertumbuhan Earning Per Share (EPS) / Laba per Saham
3. Earning Per Share (EPS) / Rasio Laba terhadap saham yang beredar
4. Price Earning Ratio (PER) / rasio harga saham terhadap laba perlembar saham
5. Price to Sales (P/S) / harga saham terhadap penjualan (price/sales ratio)
6. Debt to Equity (DER) / hutang terhadap ekuitas
7. Price to Book Value (PBV) / harga saham terhadap nilai buku
8. Net Profit Margin (NPM) / Margin keuntungan bersih
9. Price Earning to Growth Ratio (PEG) / rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan
Biasanya untuk menghitung kondisi suatu perusahaan, kita menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio-rasio ini secara garis besar dibagi menjadi beberapa kategori utama yaitu : harga / price, likuiditas / liquidity, keuntungan / profitability, daya ungkit / laverage dan efisiensi. Mari kita mulai belajar menghitung rasio-rasio yang disebut kan diatas.
Pertumbuhan Earning Per Share (EPS) / Laba per Saham
Rasio ini diperoleh dengan memperbandingkan nilai rasio laba terhadap saham beredar / Earning Per Share (EPS) pada tahun berjalan dengan nilai Earning Per Share (EPS) pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
Rasio laba terhadap saham beredar / Earning Per Share (EPS)
Rasio ini dipakai untuk menghitung tingkat keuntungan pada suatu perusahaan. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham. Dapat dihitung dengan rumus EPS = Keuntungan bersih / Jumlah saham beredar.
Price Earning Ratio (PER) / rasio harga saham terhadap laba perlembar saham
Untuk rasio yang satu ini, cara menghitungnya cukup mudah. Kita hanya perlu membagi harga saham yang beredar dengan rasio laba terhadap saham yang beredar. Berikut rumus yang dapat digunakan P/E Ratio = Harga saham / EPS.
Price to Sales (P/S) / harga saham terhadap penjualan (price/sales ratio)
Ini merupakan rasio yang biasanya digunakan untuk menilai suatu perusahaan yang masih baru atau belum mendapatkan keuntungan. Semakin rendah P/S ratio suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain dalam kelompok industri yang sejenis menunjukkan semakin bagus perusahaan tersebut. Rumus untuk menghitungnya yaitu P/S Ratio = Harga saham / penjualan per lembar saham.
Debt to Equity (DER) / hutang terhadap ekuitas
Selanjutnya, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Misalnya, rasio hutang 40 % artinya bahwa 40% dari aset dibiayai oleh hutang. Rasio hutang bisa berarti buruk pada situasi ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, dimana perusahaan yang memiliki debt ratio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, namun selama ekonomi baik dan suku bunga rendah maka dapat meningkatkan keuntungan. Rumus Debt to Equity Ratio = Total Utang / Total Equitas.
Price to Book Value (PBV) / harga saham terhadap nilai buku
Semakin rendah rasio ini, maka berarti harga saham yang ditawarkan semakin murah, namun hal ini juga dapat berarti ada sesuatu yang merupakan kesalahan mendasar pada perusahaan tersebut. Misalnya perusahaan A memiliki harta sebesar Rp. 10 miliar dan hutangnya sebesar Rp. 6 miliar maka nilai buku perusahan tersebut adalah Rp. 4 miliar dan apabila saham yang beredar 200 juta maka berarti setiap saham mewakili Rp. 20 nilai buku, dengan harga perlembar saham sebesar Rp. 50 maka berarti PB/V rasio perusahaan tersebut adalah 50/20 = 2,5. Rumusnya yaitu PB/V Ratio = Harga saham / (total harta - total hutang).
Net Profit Margin (NPM) / Margin keuntungan bersih
Net Profit Margin / Marjin laba bersih adalah rasio tingkat profitabilitas yang dihitung dengan cara membagi keuntungan bersih dengan total penjualan. Rasio ini menunjukan keuntungan bersih dengan total penjualan yang di peroleh dari setiap penjualan. Rumusnya yaitu : Net profit margin = Keuntungan bersih / Total penjualan.
Price Earning to Growth Ratio (PEG) / rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan
Biasanya, semakin rendah PEG Ratio dari suatu perusahaan, maka kemungkinan besar harga sahamnya berada dibawah harga yang semestinya dan tentunya perusahaan memiliki rasio pertumbuhan EPS yang cukup tinggi. Berikut rumus untuk menghitung PEG. PEG Ratio = P/E ratio / pertumbuhan tahunan EPS. Misalnya suatu perusahaan dengan pertumbuhan EPS sebesar 25.7% dengan P/E Ratio sebesar 39.4% maka PEG Ratio nya adalah 39.4/25.7=1.53.
Sekian, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya.
Teknik analisa fundamental biasanya mengandung banyak sekali data-data variabel yang harus dianalisis. Beberapa variabel yang cukup penting untuk diperhatikan dan dipelajari yaitu sebagai berikut :
1. Pertumbuhan Pendapatan (Revenue Growth)
2. Pertumbuhan Earning Per Share (EPS) / Laba per Saham
3. Earning Per Share (EPS) / Rasio Laba terhadap saham yang beredar
4. Price Earning Ratio (PER) / rasio harga saham terhadap laba perlembar saham
5. Price to Sales (P/S) / harga saham terhadap penjualan (price/sales ratio)
6. Debt to Equity (DER) / hutang terhadap ekuitas
7. Price to Book Value (PBV) / harga saham terhadap nilai buku
8. Net Profit Margin (NPM) / Margin keuntungan bersih
9. Price Earning to Growth Ratio (PEG) / rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan
Biasanya untuk menghitung kondisi suatu perusahaan, kita menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio-rasio ini secara garis besar dibagi menjadi beberapa kategori utama yaitu : harga / price, likuiditas / liquidity, keuntungan / profitability, daya ungkit / laverage dan efisiensi. Mari kita mulai belajar menghitung rasio-rasio yang disebut kan diatas.
Pertumbuhan Earning Per Share (EPS) / Laba per Saham
Rasio ini diperoleh dengan memperbandingkan nilai rasio laba terhadap saham beredar / Earning Per Share (EPS) pada tahun berjalan dengan nilai Earning Per Share (EPS) pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
Rasio laba terhadap saham beredar / Earning Per Share (EPS)
Rasio ini dipakai untuk menghitung tingkat keuntungan pada suatu perusahaan. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham. Dapat dihitung dengan rumus EPS = Keuntungan bersih / Jumlah saham beredar.
Price Earning Ratio (PER) / rasio harga saham terhadap laba perlembar saham
Untuk rasio yang satu ini, cara menghitungnya cukup mudah. Kita hanya perlu membagi harga saham yang beredar dengan rasio laba terhadap saham yang beredar. Berikut rumus yang dapat digunakan P/E Ratio = Harga saham / EPS.
Price to Sales (P/S) / harga saham terhadap penjualan (price/sales ratio)
Ini merupakan rasio yang biasanya digunakan untuk menilai suatu perusahaan yang masih baru atau belum mendapatkan keuntungan. Semakin rendah P/S ratio suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain dalam kelompok industri yang sejenis menunjukkan semakin bagus perusahaan tersebut. Rumus untuk menghitungnya yaitu P/S Ratio = Harga saham / penjualan per lembar saham.
Debt to Equity (DER) / hutang terhadap ekuitas
Selanjutnya, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Misalnya, rasio hutang 40 % artinya bahwa 40% dari aset dibiayai oleh hutang. Rasio hutang bisa berarti buruk pada situasi ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, dimana perusahaan yang memiliki debt ratio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, namun selama ekonomi baik dan suku bunga rendah maka dapat meningkatkan keuntungan. Rumus Debt to Equity Ratio = Total Utang / Total Equitas.
Price to Book Value (PBV) / harga saham terhadap nilai buku
Semakin rendah rasio ini, maka berarti harga saham yang ditawarkan semakin murah, namun hal ini juga dapat berarti ada sesuatu yang merupakan kesalahan mendasar pada perusahaan tersebut. Misalnya perusahaan A memiliki harta sebesar Rp. 10 miliar dan hutangnya sebesar Rp. 6 miliar maka nilai buku perusahan tersebut adalah Rp. 4 miliar dan apabila saham yang beredar 200 juta maka berarti setiap saham mewakili Rp. 20 nilai buku, dengan harga perlembar saham sebesar Rp. 50 maka berarti PB/V rasio perusahaan tersebut adalah 50/20 = 2,5. Rumusnya yaitu PB/V Ratio = Harga saham / (total harta - total hutang).
Net Profit Margin (NPM) / Margin keuntungan bersih
Net Profit Margin / Marjin laba bersih adalah rasio tingkat profitabilitas yang dihitung dengan cara membagi keuntungan bersih dengan total penjualan. Rasio ini menunjukan keuntungan bersih dengan total penjualan yang di peroleh dari setiap penjualan. Rumusnya yaitu : Net profit margin = Keuntungan bersih / Total penjualan.
Price Earning to Growth Ratio (PEG) / rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan
Biasanya, semakin rendah PEG Ratio dari suatu perusahaan, maka kemungkinan besar harga sahamnya berada dibawah harga yang semestinya dan tentunya perusahaan memiliki rasio pertumbuhan EPS yang cukup tinggi. Berikut rumus untuk menghitung PEG. PEG Ratio = P/E ratio / pertumbuhan tahunan EPS. Misalnya suatu perusahaan dengan pertumbuhan EPS sebesar 25.7% dengan P/E Ratio sebesar 39.4% maka PEG Ratio nya adalah 39.4/25.7=1.53.
Sekian, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya.


Comments
Post a Comment