Investasi, Perlu atau Tidak?
Investasi merupakan kegiatan mengumpulkan atau menanamkan modal dalam bentuk uang ke suatu instrumen dengan harapan bahwa nilai dari instrumen tersebut akan meningkat di masa depan dan mampu memberikan hasil yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi atau yang biasa kita sebut dengan kenaikan harga barang. Jika mendengar kata investasi, pada umumnya orang akan tertuju pada salah satu instrumen yaitu logam mulia seperti emas. Mengapa bisa demikian? menurut penulis hal ini disebabkan karena emas lebih mudah dijangkau dan berdasarkan pengalaman serta survey penulis, banyak orang tua yang menanamkan persepsi bahwa harga emas dari tahun ke tahun akan terus meningkat apapun yang terjadi sehingga instrumen ini menjadi sangat populer di kalangan masyarakat. Sebenarnya cukup banyak instrumen investasi yang ada, seperti reksadana, obilgasi, tanah, properti, saham dan sebagainya. Namun karena masyarakat sulit menjangkau instrumen-instrumen yang disebutkan sebelumnya maka instrumen-instrumen tersebut menjadi kurang populer. Contohnya untuk membeli saham, reksadana atau obligasi diperlukan rekening sekuritas dan proses pembelian lebih kompleks dibanding membeli emas dan jika ingin membeli properti atau tanah juga dibutuhkan modal yang tidak sedikit.
Baiklah, sekarang akan saya perjelas sedikit mengenai instrumen-instrumen yang saya sebutkan diatas.
Logam Mulia – Instrumen ini mampu memberikan hasil yang sedang (sekitar ±15% setahun jika dirata-ratakan selama 10 tahun) dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Resiko yang dihadapi dalam berinvestasi di logam mulia juga tergolong cukup rendah.
Obligasi – Instrumen ini memiliki profil resiko dan hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan logam mulia.
Reksadana – Instrumen ini cukup populer saat ini, namun masih kalah populer dibandingkan dengan logam mulia. reksadana merupakan suatu instrumen yang dikelola oleh manager investasi yang berisi portofolio saham-saham pilihan manager investasi. Nah, jika belum mengerti mengenai saham, kita dapat memulai investasi melalui reksadana. Namun biaya-biaya yang diperlukan tentu lebih mahal jika dibandingkan dengan kita membeli saham secara langsung, tapi resiko yang diterima tentunya lebih rendah karena reksadana dikelola oleh orang-orang yang memang sudah mahir di bidangnya.
Saham – Mungkin pembaca juga sering mendengar mengenai instrumen ini di film-film korea tentunya. Disana sering disebutkan mengenai kepemilikan dari suatu perusahaan. Kepemilikan itulah yang disebut saham. Instrumen ini memiliki resiko dan imbal hasil yang lebih tinggi, namun resiko instrumen ini tetap dapat di-minimalisir jika anda memiliki kemampuan menganalisa suatu perusahaan dengan baik.
Oke, jadi kira-kira mengerti kah dengan apa yang dijelaskan? Jika tidak anda dapat mencari informasi-informasi mengenai penjelasan atau instrumen yang disebutkan diatas lebih detail di google. Jika ya, mari kita lanjutkan tentang perlu atau tidaknya investasi.
Berinvestasi memungkinkan kita mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari tingkat inflasi setiap tahunnya dan membantu kita mengumpulkan kekayaan agar kita dapat lebih cepat pensiun sehingga kita memiliki waktu luang untuk keluarga kita. Tujuan penulis sendiri dalam berinvestasi yaitu penulis ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih cepat pensiun agar dapat meluangkan waktu untuk bersama keluarga. Berdasarkan pengalaman, penulis pernah berinvestasi di beberapa instrumen seperti logam mulia, reksadana, dan saham. Namun saat ini penulis tidak lagi berinvestasi di instrumen selain saham karena menurut penulis, saham mampu memberikan imbal hasil yang tinggi namun dengan resiko yang rendah jika kita mampu mengelola portfolio kita dengan baik. Kemudian di saham kita juga mendapatkan pembagian keuntungan dari laba perusahaan sehingga memungkinkan kita untuk tidak menjual saham yang kita miliki, namun tetap memiliki penghasilan dan penghasilan tersebut bersifat pasif atau dengan kata lain penghasilan yang kita dapatkan tanpa melakukan apa-apa. Hanya dengan berinvestasi di saham..
Jadi menurut anda, apakah kita perlu berinvestasi?
Sekian.. Sampai jumpa di artikel selanjutnya..
Baiklah, sekarang akan saya perjelas sedikit mengenai instrumen-instrumen yang saya sebutkan diatas.
Logam Mulia – Instrumen ini mampu memberikan hasil yang sedang (sekitar ±15% setahun jika dirata-ratakan selama 10 tahun) dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Resiko yang dihadapi dalam berinvestasi di logam mulia juga tergolong cukup rendah.
Obligasi – Instrumen ini memiliki profil resiko dan hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan logam mulia.
Reksadana – Instrumen ini cukup populer saat ini, namun masih kalah populer dibandingkan dengan logam mulia. reksadana merupakan suatu instrumen yang dikelola oleh manager investasi yang berisi portofolio saham-saham pilihan manager investasi. Nah, jika belum mengerti mengenai saham, kita dapat memulai investasi melalui reksadana. Namun biaya-biaya yang diperlukan tentu lebih mahal jika dibandingkan dengan kita membeli saham secara langsung, tapi resiko yang diterima tentunya lebih rendah karena reksadana dikelola oleh orang-orang yang memang sudah mahir di bidangnya.
Saham – Mungkin pembaca juga sering mendengar mengenai instrumen ini di film-film korea tentunya. Disana sering disebutkan mengenai kepemilikan dari suatu perusahaan. Kepemilikan itulah yang disebut saham. Instrumen ini memiliki resiko dan imbal hasil yang lebih tinggi, namun resiko instrumen ini tetap dapat di-minimalisir jika anda memiliki kemampuan menganalisa suatu perusahaan dengan baik.
Oke, jadi kira-kira mengerti kah dengan apa yang dijelaskan? Jika tidak anda dapat mencari informasi-informasi mengenai penjelasan atau instrumen yang disebutkan diatas lebih detail di google. Jika ya, mari kita lanjutkan tentang perlu atau tidaknya investasi.
Berinvestasi memungkinkan kita mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari tingkat inflasi setiap tahunnya dan membantu kita mengumpulkan kekayaan agar kita dapat lebih cepat pensiun sehingga kita memiliki waktu luang untuk keluarga kita. Tujuan penulis sendiri dalam berinvestasi yaitu penulis ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih cepat pensiun agar dapat meluangkan waktu untuk bersama keluarga. Berdasarkan pengalaman, penulis pernah berinvestasi di beberapa instrumen seperti logam mulia, reksadana, dan saham. Namun saat ini penulis tidak lagi berinvestasi di instrumen selain saham karena menurut penulis, saham mampu memberikan imbal hasil yang tinggi namun dengan resiko yang rendah jika kita mampu mengelola portfolio kita dengan baik. Kemudian di saham kita juga mendapatkan pembagian keuntungan dari laba perusahaan sehingga memungkinkan kita untuk tidak menjual saham yang kita miliki, namun tetap memiliki penghasilan dan penghasilan tersebut bersifat pasif atau dengan kata lain penghasilan yang kita dapatkan tanpa melakukan apa-apa. Hanya dengan berinvestasi di saham..
Jadi menurut anda, apakah kita perlu berinvestasi?
Sekian.. Sampai jumpa di artikel selanjutnya..


Comments
Post a Comment